PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sel-sel yang melakukan respirasi pada umumnya mengandung enzim oksidase dan oleh karena itu mempunyai kecenderungan untuk menggunakan oksigen sebagai aseptor electron terakhir. Molekul O2 merupakan substrat yang baik untuk direduksi pada muatan yang sangat positif (Eo = + 0,82 volt) dan tersedia dalam jumlah yang banyak di udara. Dengan demikian sel yang menjalankan respirasi dapat lebih efisien mmengubah substrat menjadi energi bila dibandingkan dengan sel-sel yang melakukan fermentasi (Winarno dan Fardiaz, 1990).
Sebagian besar langkah dalam proses perombakan pati menjadi glukosa dikatalisis oleh tiga macam enzim α-amilase, β-amilase dan pati fosforilase. Dari ketiganya hanya hanya α-amilase yang dapat menyerang butir pati utuh, yaitu dengan memutuskan ikatan 1,4 pada rantai amilosa atau amilopektin. Ikatan cabang 1,6 pada amilopektin atau dekstrin bercabang tidak dapat diserang oleh salah enzim diatas, namun akan dihidrolisis oleh berbagai enzim pemutus cabang yang terdiri atas pululanase, isoamilase dan limit dekstrinase (http://cheabio.blogspot.com, 2009)
Ketika karbohidrat sebagai heksosa digunakan sebagai substrat respirasi, volume CO2 yang dihasilkan dibagi dengan volume O2 yang diserap hasilnya 1. Sedangkan protein yang komposisi oksigennya lebih rendah dibandingkan dengan karbohidrat dan proporsi dari oksigen dengan karbondiokssida adalah rendah secara variable. Protein jarang digunakan sebagai substrat respirasi, tetapi ketika tumbuhan menghidrolisisnya dibutuhkan banyak oksigen untuk oksidasi yang sempurna sebagai akibatnya nilai RQ menurun dan kurang dari 1. Nilai RQ untuk substrat protein berfluktuasi sekitar 0,79. Selama berlangsungnya oksidasi protein nilai dari RQ mungkin sama dengan 1,0(0,99) ketika diproduksi ammonia atau 0,8(0,79) ketika amida dibentuk. Ketika amida diokdidasi nilai RQ naik diatas satu (Pandey and Sinha, 2002).
Diantara faktor-faktor yang menyebabkan penyimpangan dari K.R. = 1 adalah: macam substrat, heksosa yang jumlah karbonnya sama dengan jumlah oksigennya, maka nilai koesien respirasinya 1, sedangkan protein yang jumlah karbonnya lebih banyak dari jumlah oksigennya, nilai K.R.-nya lebih kecil dari satu yaitu diantara 0,8-0,9; temperatur, antara 10 oC sampai 30 oC, maka kenaikan respirasi ada 2 sampai 2,5 kali, dengan lain perkataan, K10-nya antara temperatur-temperatur tersebut ialah 2 sampai 2,5. Diatas temperature optimum, respirasi makin berkurang; kadar O2 di dalam udara, semakin banyak O2 maka respirasi akan meningkat; konsentrasi CO2 diudara, semakin tinggi konsentrasi CO2 maka respirasi makin berkurang; persediaan air; ketersediaan cahaya; adanya luka dan pengaruh bahan kimia (Dwijoseputro, 1980).
Sebagai aturan umum, rerata hasil respirasi adalah cerminan dari kebutuhan metabolisme. Tanaman yang lebih muda laju respirasinya lebih tinggi dari pada tanaman yang lebih tua. Kecepatan laju respirasi selama tahap awal dari pertumbuhan berelasi dengan sintesis kebutuhan dari kecepatan pemanjangan sel. Usia tumbuhan atau organ yang mendekati pematangan/penuaan laju respirasi menurun (Hopkins, 2000).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui besarnya koesien respirasi dari beberapa kecambah tanaman.
Kegunaan Percobaan
- Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal tes di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
- Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.
TINJAUAN PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar